Metode Belajar Membaca

Posted: 18/12/2011 in Uncategorized

ImageBingung mencari metode belajar membaca yang baik untuk anak Anda? Pernahkah Anda mendengar tentang metode Glenn Doman? Mari kita simak fakta berikut, semoga bermanfaat untuk Anda yang sedang bingung mencari program belajar membaca yang terbaik untuk buah hati Anda…

Kapan Sebaiknya Anak Anda Belajar Membaca?

Permasalahan seputar waktu yang tepat untuk mengajarkan anak membaca pernah menjadi perbincangan yang hangat. Ketika itu, sebagian berpendapat bahwa mengajarkan anak membaca terlalu dini bisa berakibat buruk untuk perkembangannya karena dianggap akan membebani. Mereka yang beranggapan seperti ini menyarankan agar anak belajar membaca setelah mereka berusia 6-7 tahun.

Namun demikian, seiring dengan diadakannya berbagai penelitian dan studi ilmiah, ternyata si anak justru akan terbebani apabila mereka terlambat belajar membaca dan berbagai studi juga menunjukkan bahwa usia 6-7 tahun dapat digolongkan ke dalam kategori ‘terlambat’ tersebut.

Keuntungan Belajar Membaca Sejak Usia Dini

Bagaimana belajar membaca sebelum masuk Sekolah Dasar (SD) bisa mempengaruhi prestasi membaca anak di masa depannya? Dolores Durkin merupakan peneliti yang pertama kali mendalami masalah ini pada tahun 1958-1964 dan mengadakan berbagai studi untuk menelitinya. Apa kesimpulan yang dapat diambil dari studi selama 6 tahun ini?

  1. Anak yang bisa membaca sejak dini ternyata senantiasa bisa mengungguli kemampuan membaca anak yang terlambat, hingga ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
  2. Kemampuan membaca sejak dini ternyata tidak berhubungan dengan IQ anak, namun sangat berhubungan dengan suasana rumah dan keluarganya. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata muncul dari keluarga yang memiliki perhatian dan usaha ekstra dalam membantu mereka belajar membaca.
  3. Kemampuan membaca sejak dini juga tidak berhubungan dengan kondisi sosial-ekonomi. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata memiliki orang tua yang mau menyempatkan waktu untuk kegiatan membaca bersama anaknya, walaupun latar belakang sosial-ekonomi mereka berbeda-beda.

Durkin juga mendapati bahwa anak-anak yang mulai belajar membaca sejak usia 3-4 tahun ternyata selalu mengungguli anak-anak lainnya yang mulai belajar membaca sejak usia 5-6 tahun. Mereka bahkan bisa terus unggul hingga rentang masa 8 tahun.

Teori Glenn Doman

Glenn Doman, pendiri Institutes for the Achievemnet of Human Potential (IAHP), mengatakan bahwa bayi sangatlah jenius terhadap bahasa. Sebagai contoh, coba kita lihat… bagi setiap bayi yang lahir di Indonesia, bahasa Indonesia merupakan bahasa asing – tidak bedanya dengan dengan bahasa Inggris atau Rusia.

Namun apa yang terjadi? Ternyata si bayi bisa mempelajari bahasanya! Bagaimana ia mempelajarinya? Anda bisa saja dengan bangganya mengatakan bahwa Anda yang yang telah mengajarinya, tapi kalau mau jujur, paling-paling Anda hanya mengajari ‘Mama’, ‘Papa’ dan sebagian kecil kata saja, ya kan? Lalu bagaimana dengan ribuan kosakata, berikut dengan cara pengucapannya yang benar yang diserap oleh si kecil – apakah Anda yang mengajarkannya secara khusus?

Glenn Doman menyimpulkan, bahwa anak-anak mempelajari bahasanya melalui konteks, bukan dengan cara diajarkan satu per satu dari daftar koleksi kata berikut dengan artinya (ini persisi seperti yang diajarkan pada umumnya di sekolah-sekolah ketika mengajarkan bahasa asing ataupun ketika mengajarkan anak membaca).

Oleh sebab itu, Doman menganjurkan agar ketika mengajarkan anak membaca, kita hendaknya mengolah bahasa dalam bentuk tulisan sebagaimana kita mengolah bahasa dalam bentuk pembicaraan. Artinya, kita sebaiknya membuat proses belajar membaca untuk bayi sesederhana mungkin. Dengan begini, anak kecil bisa belajar membaca secara alami dan tanpa ia sadari – sebagaimana ia belajar berbicara dengan bahasa ibunya.

Untuk bisa memahami bahasa melalui telinga, diperlukan 3 persyaratan:

  1. Lantang
  2. Jelas
  3. Diulang-ulang

Dan tanpa disadari, seorang ibu biasanya berbicara kepada bayinya dengan 3 elemen ini; lantang, jelas dan diulang-ulang.

Alasan utama mengapa kebanyakan bayi tidak menyerap bahasanya melalui mata menuju ke otaknya sebagaimana bahasa tersebut diserap melalui telinga menuju otaknya, adalah karena ternyata untuk bisa membaca bahasa tersebut, diperlukan bahasa yang disajikan kepada penglihatannya dalam bentuk yang besar, jelas dan diulang-ulang. Dan inilah yang gagal diberikan oleh kebanyakan orang tua kepada bayinya – menyajikan kata-kata dalam bentuk besar, jelas dan diulang-ulang, sehingga anak-anak bisa belajar dengan sangat mudah.

 

Metode Belajar Membaca dengan Flash Card

Metode belajar membaca Glenn Doman didasari fakta bahwa anak kecil belajar melalui permainan. Apabila kegiatan belajar yang mereka jalani menyenangkan, maka mereka akan menikmatinya, sehingga dapat belajar jauh lebih cepat.

Untuk itu, Glenn Doman menganjurkan agar menggunakan flash card (kartu) untuk membantu si kecil belajar membaca. Prinsipnya adalah Anda menggunakan kartu-kartu yang berukuran besar yang bertuliskan kata-kata sederhana. Setiap kartu atau flash card tersebut memuat 1 kata yang ditulis dengan huruf kecil (bukan kapital) dengan ukuran besar dan warna yang jelas/mencolok.

 

Berikutnya, cari waktu yang lapang dan menyenangkan untuk Anda dan buah hati Anda. Duduklah bersama dan tunjukkan flash card tersebut kepadanya satu per satu sambil Anda bacakan dengan lantang dan jelas.

Tertarik untuk memilikinya? Silahkan kunjungi koleksi flash card.

Bagaimana Cara Belajar Membaca Menggunakan Flash Card?

Ada beberapa hal penting yang perlu Anda ketahui tentang penggunaan flash card:

  1. Flash card sebaiknya disusun dan dikelompokkan berdasarkan subyek yang sama
  2. Untuk flash card yang bergambar, gambarnya harus berukuran cukup besar dan jelas
  3. Flash card gambar hanya berisi 1 gambar untuk setiap kartu, tanpa latar belakang apapun
  4. Ketika Anda menunjukkan kartu tersebut kepada anak Anda, usahakan tidak terlalu lama. Cukup sekitar 1 detik
  5. Ketika anak Anda terlihat bosan, segera hentikan aktifitas belajar. Ingat, proses belajar jangan sampai dipaksakan dan jangan terlalu ingin cepat melihat hasil
  6. Adakan kegiatan ini hanya ketika anak Anda sedang baik perasaannya. Jangan sekali-kali mengadakannya ketika ia sedang lelah, sakit, atau rewel
  7. Pastikan juga Anda sedang dalam keadaan senang ketika mengajarkan si kecil membaca. Dengan begini, suasana belajar-mengajar menjadi menyenangkan
  8. Ketika anak Anda selesai mempelajari 1 set flash card, Anda bisa beralih ke set berikutnya sehingga ia selalu mempelajari sesuatu yang baru

Jangan lupa, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Setiap mereka memiliki kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda dalam mempelajari sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, pastikan Anda bisa menyesuaikan cara pembelajaran untuk setiap anak. Selamat menerapkan metode belajar membaca dengan flash card dan semoga berhasil!


Abdurrahman Wahid

Dalam sebuah dialog tentang pendidikan Islam, berlangsung di Beirut (Lebanon) tanggal 13-14 Desember 2002 yang diselenggarakan oleh Konrad Adenauer Stiftung, ternyata disepakati adanya berbagai corak pendidikan agama, hal ini juga berlaku untuk pendidikan Islam. Walaupun ada beberapa orang yang terus terang mengakui, maupun yang menganggap pendidikan Islam yang benar haruslah mengajarkan “ajaran formal” tentang Islam. Termasuk dalam barisan ini adalah dekan-dekan Fakultas Syari’ah dan Perundang-undangan dari Universitas Al-Azhar di Kairo. Diskusi tentang mewujudkan “pendidikan Islam yang benar“ memang terjadi, tapi tidak ada seorang peserta-pun yang menafikan dan mengingkari peranan berbagai corak pendidikan Islam yang telah ada. Penulis sendiri membawakan makalah tentang pondok pesantren sebagai bagian dari pendidikan Islam.

Dalam makalah itu, penulis melihat pondok pesantren dari berbagai sudut. Pondok pesantren sebagai “lembaga kultural” yang menggunakan simbol-simbol budaya jawa; sebagai “agen pembaharuan” yang memeperkenalkan gagasan pembangunan pedesaan (rural development); sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat (centre of community learning); dan juga pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang bersandar pada silabi, yang dibawakan oleh Imam Al- Suyuti lebih dari 500 tahun-nan yang lalu, dalam Itman al-dirayah. Silabi inilah yang menjadi dasar acuan pondok pesantren tradisional selama ini, dengan pengembangan “kajian Islam” yang terbagi dalam 14 macam disiplin ilmu yang kita kenal sekarang ini, dari nahwu/ tata bahasa arab klasik hingga tafsir al-Qur’an dan teks hadist nabi, semuanya dipelajari dalam lingkungan pondok pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam. Melalui pondok pesantren juga nilai ke-Islam-an ditularkan dari generasi ke generasi.

Sudah tentu, cara penularan seperti itu merupakan titik sambung pengetahuan tentang Islam secara rinci, dari generasi ke generasi. Di satu sisi, ajaran-ajaran formal Islam dipertahankan sebagai sebuah “keharusan” yang diterima kaum muslimin diberbagai penjuru dunia. Tetapi, disini juga terdapat “benih-benih perubahan”, yang membedakan antara kaum muslimin di sebuah kawasan dengan kaum muslimin lainnya dari kawasan yang lain pula. Tentang perbedaan antara kaum muslimin di suatu kawasan ini, penulis pernah mengajukan sebuah makalah kepada Universitas PBB di Tokyo pada tahun 1980-an. Tentang perlu adanya “study kawasan” tentang Islam di lingkungan Afrika Hitam, budaya Afrika Utara dan negeri-negeri Arab, budaya Turki-Persia-Afghan, budaya Islam di Asia Selatan, budaya Islam di Asia Tenggara dan budaya minoritas muslim di kawasan-kawasan industri maju. Sudah tentu, kajian kawasan (area study’s) ini diteliti bersamaan dengan kajian Islam klasik (classiccal Islamic study’s).

*******

Pembahasan pada akhirnya lebih banyak ditekankan pada dua hal yang saling terkait dalam pendidikan Islam. Kedua hal itu adalah, pembaharuan endidikan Islam dan modernisasi pendidikan Islam, dalam bahasa Arab taj’did al-tarbiyah al-Islamiah dan al-hadasah, dalam liputan istilah pertama, tentu saja ajaran-ajaran formal Islam harus diutamakan, dan kaum muslimin harus di didik mengenai ajaran-ajaran agama mereka. Yang diubah adalah cara penyampaiannya kepada peserta didik, sehingga mereka akan mampu memahami dan mempertahankan “kebenaran”. Bahwa hal ini memiliki validitas sendiri, dapat dilihat pada kesungguhan anak-anak muda muslimin terpelajar, untuk menerapkan apa yang mereka anggap sebagai “ajaran-ajaran yang benar” tentang Islam, contoh paling mudahnya adalah menggunakan tutup kepala di sekolah non-agama, yang di negeri ini dikenal dengan nama jilbab. Ke-Islaman lahiriyah seperti itu, juga terbukti dari semakin tingginya jumlah mereka dari tahun ke-tahun yang melakukan ibadah umroh/ Haji kecil.

Tentu saja, kenyataan seperti itu tidak dapat diabaikan di dalam penyelenggaraan pendidikan Islam di negeri manapun. Dengan kata lain, pendidikan Islam tidak hanya di sampaikan dalam ajaran-ajaran formal Islam di sekolah-sekolah agama/madrasah belaka, melainkan juga melalui sekolah-sekolah non-agama yang berserak diseluruh penjuru dunia. Demikian juga, “semangat menjalankan ajaran Islam”, datangnya lebih banyak dari komunikasi di luar sekolah, antara berbagai komponen masyarakat Islam. Hal lain yang harus diterima sebagai kenyataan hidup kaum muslimin di mana-mana, adalah respon umat Islam terhadap “tantangan modernisasi”, seperti pengentasan kemiskinan, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya, adalah respon yang tak kalah bermanfaatnya bagi pendidikan Islam, yang perlu kita renungkan secara mendalam.

Pendidikan Islam, tentu saja harus sanggup “meluruskan” responsi terhadap tantangan modernisasi itu, namun kesadaran kepada hal itu justru belum ada dalam pendidikan Islam di mana-mana. Hal inilah yg merisaukan hati para pengamat seperti penulis, karena ujungnya adalah diperlukan jawaban yang benar atas pernyataan berikut: Bagaimanakah caranya membuat kesadaran struktural sebagai bagian natural dari perkembangan pendidikan Islam? Dengan ungkapan lain, kita harus menyimak perkembangan pendidikan Islam di berbagai tempat, dan membuat peta yang jelas tentang konfigurasi pendidikan Islam itu sendiri. Ini merupakan pekerjaan rumah, yang mau tak mau harus ditangani dengan baik.

******

Jelas dari uraian diatas, pendidikan Islam memiliki begitu banyak model pengajaran baik yang berupa pendidikan sekolah, maupun “pendidikan non-formal” seperti pengajian, arisan dan sebagainya. Tak terhindarkan lagi, keragaman jenis dan corak pendidikan Islam terjadi seperti kita lihat di tanah air kita dewasa ini. Ketidakmampuan memahami kenyataan ini, yaitu hanya melihat lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan madrasah di tanah air sebagai sebuah institusi pendidikan Islam, hanyalah akan mempersempit pandangan kita tentang pendidikan Islam itu sendiri. Ini berarti, kita hanya mementingkan satu sisi belaka dari pendidikan Islam, dan melupakan sisi non-formal dari pendidikan Islam itu sendiri. Tentu saja menjadi berat tugas para perencana pendidikan Islam, kenyataan ini menunjukkan di sinilah terletak lokasi perjuangan pendidikan Islam.

Dalam kenyataan ini haruslah diperhitungkan penjabaran tarekat dan gerakan shalawat nabi, yang terjadi demikian cepat dimana-mana. Tentu saja, “kenyataan yang diam” seperti itu sebenarnya berbicara sangat nyaring, namun kita sendiri yang tidak dapat menangkapnya. Seorang warga Islam yang memperoleh kedamaian dengan ritual memuja nabi itu, dengan sendirinya berupaya menyesuaikan hidupnya dari pola hidup nabi yang diketahuinya, yaitu kepatuhan kepada ajaran Islam. Ritual itu tentu saja akan menyadarkan kembali orang tersebut ,kepada kehidupan agama walaupun hanya bersifat parsial (Juz’i) belaka. Hal inilah yang seharusnya kita pahami sebagai “kenyataan sosial” yang tidak dapat kita pungkiri dan diabaikan.

Karenanya, peta “keberagaman” pendidikan Islam seperti dimaksudkan di atas, haruslah bersifat lengkap dan tidak mengabaikan kenyataan yang ada. Lagi-lagi kita berhadapan dengan kenyataan sejarah, yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Perkembangan keadaan, yang tidak memperhitungkan hal ini, mungkin hanya bersifat menina-bobokan kita belaka, dari tugas sebenarnya yang harus kita pikul dan laksanakan. Sikap untuk mengabaikan keberagaman ini, adalah sama dengan sikap burung onta yang menyembunyikan kepalanya di bawah timbunan pasir tanpa menyadari badanya masih tampak. Jika kita masih bersikap seperti itu, akibatnya akan menjadi sangat besar bagi perkembangan Islam di masa yang akan datang. Karenanya jalan terbaik adalah membiarkan keaneka-ragaman sangat tinggi dalam pendidikan Islam dan membiarkan perkembangan yang akan menentukan. Sebuah hal yang sulit dilakukan, namun gampang dirumuskan. Nyatanya memang benar demikian, bukan?

Yogyakarta, 21 Desember 2002

(sumber: Kedaulatan Rakyat, Jumat 27/12)


Image

PUISI

Posted: 12/11/2011 in Uncategorized

PERPISAHAN

seribu hari lebih terjajaki
ada banyak senyum tecipta
diantara riangnya siang
diantara tawa gejolak remaja

di sini….
tempat berteduhnya patriot muda
tempat menuang segala cita
seperti Biru putih bajunya
seperti merah putih semangatnya

setelah lama merenda hari mengusung mimpi
berat terasa kami lepaskan
Selamat tinggal cerita indah
perpisahan bukanlah kehilangan
hanya batas tipis antara kisah dan kenangan

Selamat jalan pejuang muda
kobarkan semangat kebenaran di dadamu
jalan panjang yang masih terbentang
menanti pijakkan kokoh kakimu

berlarilah menggapainya
melajulah…

 

 

PUISI SEPI

malam ini
saat mata lelah belum terpejam
mimpiku terbang merayapi gelap
mamanjat angin memeluk langit
menyapa bulan pucat

kau hadir mengusik hampa ruang kamarku
menjambangi mimpiku
menyusup ke sebelah hatiku yang beku
dan menyapaku tanpa suara

Posted: 12/11/2011 in Uncategorized

Singular And Plural Nouns

Kalau dalam bahasa Indonesia mau bilang atau mau tulis 1 buku ya “satu buku”, dan untuk 2 buku ya sami mawon hanya saja 2, menjadi “dua buku”. Dalam bahasa Inggris jika Anda hanya mengganti one menjadi two itu masih belum cukup. Kalau 1 buku katakan “one book” atau “a book”. Sedangkan dua buku adalah “two books”, harus ditambahkan huruf s pada kata book, menjadi books.

Itulah yang dalam pelajaran bahasa inggris sesi ini yang saya maksudkan sebagai Singular (single) dan Plural (banyak atau jamak atau lebih dari satu). Dalam bahasa Indonesia ini hampir tak perlu dipelajari, karena tanpa perubahan untuk satu atau lebih dari satu, paling-paling kita tambah jumlahnya saja, atau kata tersebut diulang, misalnya beberapa buku, atau buku-buku. Bahasa kita keren kok, tak serumit bahasa inggris. Sebaliknya orang yang bahasa aslinya bahasa inggris akan bilang bahasa Indonesia yang rumit, sedangkan bahasa inggris MUDAH. Nah, kalau kita perdebatkan hal ini maka tak akan jadi bisa pandai bahasa inggris, haha..

Ok kita lanjutkan ya.

Singular artinya ya SINGLE atau tunggal (satu), jadi Singular Noun adalah kata benda tunggal. Contohnya book, ball, computer, table, dan sebagainya.

Nanti, dalam pelajaran tentang TO BE, kita akan memasangkan singular noun dengan “is”, seperti this is a book, my father is a pilot (ayah saya seorang pilot).

Sedangkan Plural artinya jamak (banyak, lebih dari satu). Seperti balls (beberapa bola), fingers (jari-jari). Anda lihat pada kata benda tersebut ditambahkan s. Tetapi untuk baby (bayi) jika lebih dari satu bukan babys loh, melainkan babies. Sedangkan man (orang laki-laki) jika lebih dari satu malah menjadi men. Kurang asem bener nih bahasa, ngga beraturan.

Nah, nanti dalam berbicara bahasa inggris, apalagi menulis dalam bahasa inggris, Anda harus mengikuti panduan yang tidak ada rumusnya ini, jika salah nanti dosa. Kalau banyak dosa bisa masuk neraka. Jadi, jika Anda hendak berbahasa inggris dengan baik dan benar, pelajarilah hal ini lewat buku-buku english grammar atau tata bahasa inggris yang banyak terdapat di toko-toko buku.

Tapi jangan pula ketidak-beraturan bahasa inggris ini dijadikan alasan “wah mending gak deh belajar bahasa inggris, rumit amat!”. Nanti Anda rugi sendiri tak pandai bahasa inggris. Jika Anda pandai bahasa inggris, hidup bisa jadi lebih mudah. hehe.. Anda sudah baca tulisan saya tentang Bisnis Internet Dan Bahasa Inggris?

Rumus yang umum untuk kata benda tunggal menjadi jamak atau bahasa inggrisnya singular noun menjadi plural noun adalah ditambah s, es, ies. Memang ada banyak pengecualian. Agar Anda mendapatkannya ya beli buku woii!!, hehe..

Kalau dalam keseharian kita seperti chatting via Yahoo Messanger, atau ngobrol makan siang sambil belajar bahasa inggris, lupakan saja dulu s atau es ini (kalau Anda pesan teh panas kan nda perlu pake es). Maksud saya agar banyak praktek tanpa banyak hambatan, do it, praktek, praktek dan praktek (seperti kata guru saya).

Ya, dalam setiap hal, baik itu belajar bahasa inggris atau belajar bisnis sekalipun, jurus yang paling jitu adalah “jurus terus”. Ya terus praktek, ya terus belajar, ya terus bersemangat. Dijamin Anda pasti bisa!. Bahasa inggris itu ternyata lebih cepat bisa dengan “semangat” bukan dengan buku, bukan pula dengan grammar atau tatabahasa. Tapi dengan semangat Anda, maka nanti buku dan segala macam resource akan anda manfaatkan sendiri tanpa disuruh lagi. Jika ini menurut anda adalah sebuah kontroversi maka itu tandanya semangat Anda untuk bisa bahasa inggris masih perlu saya pertanyakan.

Yes, terus terang sebenarnya di website bahasainggris.net ini saya akan lebih banyak memotivasi Anda agar Anda otomatis gerak dan action walau Anda sudah lupa bahwa website belajar bahasa inggris saya ini pernah Anda baca.

Tuh kan, dari belajar bahasa inggris tentang singular dan plural nouns kita lari ke “semangat”. Kok bisa ya? hehe.. Rasanya jarang cara ini dapat Anda temui di tempat-tempat kursus bahasa inggris yang pernah Anda ikuti, walapun untuk kursus bahasa inggris tersebut Anda telah membayar mahal. Dengan modal semangat maka proses belajar Anda bahasa inggris sudah pasti menjadi jauh lebih murah. Yang mahal adalah semangat Anda itu.

Sekarang katakanlah “Saya harus bisa bahasa inggris!”. Katakan juga “bahasa inggris saya harus mengalir seperti air, harus! tidak ada pilihan yang lain!”.

Bahkan saya membuat posting ini sebenarnya untuk saya sendiri belajar. Lihatlah bagaimana saya menulis demikian banyak, dan karena itulah bahasa inggris mulai nempel sangat lekat di diri saya. Swear bukan maksud saya untuk berbangga-bangga lo ya, maksud saya tak lain agar Anda bersemangat! dan Bisa!.

Tandanya semangat, ada action. Jika Anda jalan-jalan ke mall, belilah buku tentang english grammar, dan mulai pelajari dengan penuh semangat!.

Pelajaran bahasa inggris tentang singular dan plural nouns saya cukupkan dulu untuk sesi kali ini, nanti akan terkait dengan pelajaran-pelajaran lainnya tentu saja.

Semoga bahasa inggris Anda semakin lancar.

Terimakasih.


Dengan memahami perbedaan “kata” dan “kalimat” secara umum dalam bahasa Indonesia, maka kemampuan kita untuk menyerap pelajaran-pelajaran bahasa inggris dipastikan akan meningkat tajam. Karena sebenarnya bahasa inggris yang baik itu dimulai dengan pengetahuan tatabahasa Indonesia yang baik pula. Dengan kata lain, seseorang yang mengerti tata bahasa Indonesia yang baik, akan sangat mudah menguasai bahasa inggris ini (jika dia mau tentunya). Tanpa memahai tatabahasa dan belajar langsung di lapangan, maka bahasa inggris kita tidak punya pondasi yang kuat dan seperti rumah yang tanpa pondasi kuat akan cepat roboh. Sedangkan bahasa inggris tanpa dasar-dasar yang kuat akan cepat sekali lupa. Coba saja.

Pengetahuan tentang tatabahasa seperti perbedaan antara kata dan kalimat ini akan sengat terasa ketika kita harus membolak-balik kata dalam bahasa inggris. Kapan kita harus membaliknya (misal: yellow book, bukan book yellow). Dan kapan tidak boleh di balik (misal: I understand, bukan understand I). Saya yakin banyak diantara kita yang dipusingkan oleh hal ini. Karena saya dulu pun mengalaminya. hehehe…

Ok, secara singkat akan saya coba terangkan berbedaannya sebagai berikut:

Apakah Kata itu?

Kata ya kata dong. Misalnya buku, angin, pelajaran, rumah baru, pergi, gadis cantik, dan sebagainya. Kata bisa hanya satu, bisa dua, bisa tiga, namun tetap mengandung satu kesatuan arti. Kata ini terdiri dari berbagai jenis: ada kata benda, kata sifat, kata kerja, kata gabung dan sebagainya, untuk jelasnya dapat anda baca dalam pelajaran lainnya di website ini.

Kalau 1 kata enak, langsung bisa kita bahasa inggriskan. Misalnya rumah adalah house. Kalau kata gabung berbeda. Kata gabung adalah 2 atau lebih kata yang digabung namun tetap menjadi satu kesatuan arti. Misalnya “rumah baru” adalah kata gabung. Yang seperti ini dalam bahsa Inggris harus dibalik, karena struktur bahasa inggris berbeda, yaitu menganut sistem MD (Menerangkan Diterangkan), sehingga “rumah baru” dalama bahasa inggris adalah “new house”.

Sedangkan Kalimat, adalah gabungan dari beberapa kata yang paling tidak terdiri dari Subject, Predikat dan Object (S+P+O). Berbeda dengan kata gabung yang hanya mengandung 1 bagian saja. Berikut contoh kalimat:

I love You (Aku Mencintai kamu).

Subjectnya adalah I, Predikatnya adalah Love, dan Objectnya adalah You.

Nah, dalam bahasa inggris, kalau kata gabung tadi harus dibalik, sedangkan kalimat tidak boleh dibalik, dibalik nanti malah jadi salah!.

Jadi, kalau kita sudah mengerti perbedaan antara kata dan kalimat, maka kita tidak akan pernah bingung lagi mana yang harus dibalik dan mana yang tidak. Dengan demikian semakin mudah dan cepat kita mempelajari bahasa inggris ini bukan?

Dengan mengerti lebih detail apa itu Suject, apa itu Predikat, apa itu Object, apa itu Kata Benda, apa itu kata sifat dan sebagainya maka kecepatan anda menyerap pelajaran bahasa inggris baik melalui website ini atau melalui berbagai sumber lainnya seperti buku pelajaran, kursus privat bahasa inggris, dsb. Jika anda memang berniat untuk benar-benar belajar semakin cepat dan mandiri, saran saya luangkan waktu Anda untuk mempelajari topik-topik tersebut. Ketika Anda faham rumusnya, rumus bahasa inggris, dan anda sering mempraktekkannya maka tidak lama kemudian bahasa inggris anda akan lancar, mengalir bagai air, seperti orang inggris ngomong inggris. Yakinlah.

Topik ini hanya membahas perbedaan mendasar antara kata dan kalimat saja, seperti telah saya jelaskan di atas. Topik yang lebih detail, contoh-contohnya yang berhubungan dengan kata dan kalimat akan dapat Anda temukan di bagian-bagian lain website ini pada bagian Belajar Bahasa Inggris Menu Utama yang terdapat pada bagian akhir setiap pelajaran.

Bisa anda sebutkan 5 contoh kata? dan Juga 2 Contoh Kalimat?


Vocabulary atau Perbendaharaan Kata, maksud saya berapa banyak kata-kata bahasa inggris yang kita kuasai, tentu saja mencerminkan apakah kita benar-benar bisa berbahasa inggris atau bisa sedikit sekali bahasa inggris. Kalau orang yang bahasa aslinya adalah bahasa inggris seperti orang Inggris atau orang Amerika, bisa jadi mereka menguasai semua kata bahasa inggris, karena itulah mereka bisa. Jelas dong ya, hehe..

Enak tidak mempunyai vocabulary atau perbendaharaan kata yang banyak dalam bahasa inggris? Pasti!. Enaknya punya banyak vocabulary ini seperti enaknya punya banyak uang, sehingga waku kursus bahasa inggris dulu saya dapat istilah ini “More Money You have, more things you can buy. More vocabulary you have, more things you can say”. Artinya, semakin banyak yang yang kita punya semakin banyak yang bisa kita beli, semakin banyak perbendaharaan kata yang kita punya semakin banyak pula yang dapat kita katakan” tentu yang dapat kita katakan dalam bahasa inggris.

Sengang shopping dan membeli lebih banyak barang-barang? punyailah lebih banyak uang. Senang menjadi orang yang dengan lancar bisa berbicara atau menulis dalam bahasa inggris? Punyailah perbendaharaan kata bahasa inggris yang banyak. Punya sedikit uang, jangan harap bisa banyak shopping, tak punya uang apalagi. Jika vocabulary anda sedikit, jangan harap bisa bisa lancar bahasa inggris, tanpa vocabulary sama sekali maka artinya anda tidak bisa bahasa inggris.

Nah, kalau anda benar-benar berniat untuk bisa bahasa inggris, segera ambil langkah agar setiap hari perbendaharaan kata bahasa inggris anda semakin banyak. Caranya tentu sangat bervariasi. Ada orang yang menghapalkan kamus juga loh. Bagaimana cara Anda?